Belajar Nge Blog Biar Gag Goblog: PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR KOPI BALI, HARGA RATA-RATA EKSPOR KOPI, KURS DOLLAR AMERIKA SERIKAT DAN KEBIJAKAN EKSPOR KOPI

Sabtu, 26 Maret 2011 PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR KOPI BALI, HARGA RATA-RATA EKSPOR KOPI, KURS DOLLAR AMERIKA SERIKAT DAN KEBIJAKAN EKSPOR KOPI


PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR KOPI BALI, HARGA RATA-RATA EKSPOR KOPI, KURS DOLLAR AMERIKA SERIKAT DAN KEBIJAKAN EKSPOR KOPI
YERMIA LENTOLANGI
ABSTRACT
Foreign trading, especially export, has an important inuence for many countries including Indonesia. Indonesian’s export is very diverse, includes migas & non-migas. Export non -migas , which is one of Indonesian’s main exports, includes the horticulture sector. Indonesian’s foreign trading operations will obviously have an impact on the development of the regional trading segments,without an exception for Bali Province.
Coffee is becoming one of the commodity exports in Bali Province. This study is intended to nd out how price, American Dollar’s rates and the coffee export’s policy simultaneously and partially inuenced the coffee export’s volume of Bali Province during 1990-2006.
The time series data of export’s volume, average price of coffee export, and American Dollar’s rates are stationery at second difference. After performing analysis of the in uenced of average price of coffee export, American Dollar’s rates and the coffee export’s policy on the coffee export’s volume of Bali Province during 1990-2006, we can conclude that average price of coffee export, American Dollar’s rates and the coffee export’s policy simultaneously have signicant inuences on the coffee export’s volume of Bali Province during 1990-2006.
Price and American Dollar’s rates are not partially signicant on inuencing the coffee export’s volume of Bali Province during 1990-2006. Meanwhile, after the implementation of the coffee export’s policy, Bali’s coffee export’s volume is experiencing a decrease in the amount of exports compare to before the introduction of the export’s policy. The dominant variable that most inuenced the coffee export’s volume of Bali Province during 1990-2006 is the American Dollar’s rates, because American Dollar’s rates have the highest absolute value of standardized coefcients beta.
PENDAHULUAN
Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian suatu negara. Dalam situasi global tidak ada satu negara pun yang tidak melakukan hubungan dagang dengan pihak luar negeri, mengingat bahwa setiap negara tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri secara efektif tanpa bantuan negara lainnya.
Perdagangan luar negeri memiliki dampak yang luas terhadap perekonomian suatu negara terutama di negara berkembang dengan pendapatan yang rendah yang tidak memungkinkan untuk melakukan akumulasi tabungan dan modal. Perdagangan luar negeri memberikan harapan bagi negara untuk bisa menutupi kekurangan tabungan domestik yang diperlukan bagi pembentukkan modal dalam rangka meningkatkan produktivitas perekonomiannya. Apalagi mengingat tujuan pembangunan millennium (MDGs) yang salah satunya adalah menghapus kemiskinan absolut dan kelaparan, sehingga sangat penting bagi satu negara untuk melakukan hubungan dengan negara lain dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakatnya.
Aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia, khususnya ekspor sangat beragam, dimana keragaman ekspor tersebut tercakup dalam ekspor dalam bentuk migas dan non migas. Ekspor non migas adalah produk ekspor andalan Indonesia, dimana Bali sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan wilayah yang secara geografis memang tidak begitu luas, mampu menghasilkan produk ekspor yang menarik perhatian konsumen luar negeri. Komoditas ekspor utama Provinsi Bali dikelompokan menjadi 5 komoditas, yaitu: Pertama, komoditas ekspor hasil kerajinan yang terdiri dari 16 jenis antara lain: kerajinan alat musik, anyaman, batu padas, bambu, kayu, furniture, keramik, terracotta, kerang, kulit, logam, lukisan, perak, rotan, tulang dan kerajinan lain-lain; Kedua, komoditi ekspor hasil industri yang terdiri dari enam komoditi, yaitu: TPT, plastik, sepatu, tas, komponen rumah jadi dan ikan dalam kaleng; Ketiga, komoditi ekspor hasil pertanian atau perikanan yang terdiri dari 11 jenis, yaitu: burung hidup, ikan tuna, lobster, ikan hias hidup, ikan nener, sirip ikan hiu, kepiting, ikan kerapu, ikan kakap, rumput
laut dan buah-buahan; Keempat, komoditi-komoditi hasil perkebunan yang terdiri dari 3 jenis, yaitu: kopi, panili dan kakao; Kelima, komoditi ekspor lain-lain, seperti bunga, dupa dan rempah-rempah.
Salah satu produk ekspor utama Bali yang berasal dari hasil perkebunan adalah kopi. Produksi kopi memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi Bali. Namun, beberapa tahun terakhir ini kontribusi dari volume ekspor kopi cenderung sangat rendah bahkan sepanjang tahun 2003-2006 kontribusi volume ekspor kopi terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi Bali hanya kurang dari 10 persen saja.
Tabel 1 memperlihatkan bahwa, rata-rata kontribusi volume ekspor kopi terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi Bali adalah sebesar 61,93 persen. Hal ini memperlihatkan betapa tingginya kontribusi volume ekspor kopi terhadap volume ekspor perkebunan Provinsi Bali periode 1990-2006. Bahkan sebelum periode tahun 2000 kontribusi volume ekspor kopi terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi Bali selalu mencapai angka di atas 85 persen, dengan angka tertinggi adalah pada tahun 1997 yaitu sebesar 96,12 persen, dan terendah adalah pada tahun 2005, yaitu sebesar 4,59 persen.
Penurunan kontribusi volume ekspor kopi terhadap volume ekspor hasil perkebunan Provinsi Bali tersebut disebabkan karena perkembangan volume
ekspor kopi yang semakin menurun selama tahun 1990-2006. Volume ekspor kopi Bali dari tahun ke tahun berfluktuasi dan cenderung terus mengalami penurunan jumlah ekspor. Hal ini dikarenakan harga kopi di pasaran internasional masih sangat rendah serta kelesuan pasar ikut menurunkan gairah para eksportir kopi, sebagai akibat dari melimpahnya pasok, masih tingginya stock di tangan traders, semakin ketatnya persaingan antar negara produsen, para spekulan yang menekan harga, serta faktor ekonomi-politis lainnya. Tingkat perkembangan volume ekspor kopi Bali rata-rata minus 12,09 persen per tahun, ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1996 yaitu sebesar 147,35 persen atau naik sebesar 1.534.351 kg dari periode sebelumnya, sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap kopi khususnya dari Uni Eropa dan Jepang. Sedangkan penurunan volume ekspor kopi provinsi Bali terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar minus 96,03 persen atau turun sebesar 107.645 kg. Hal ini diakibatkan adanya serangan busuk batang yang menyerbu ke hampir seluruh areal perkebunan komoditas tersebut sehingga pengiriman komoditas itu ke mancanegara menjadi terhenti. Di samping itu, karena hasil produksi kopi Bali tidak semuanya di ekspor ke luar negeri, melainkan juga diperdagangkan di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Naik turunnya volume ekspor kopi sangat dipengaruhi oleh naik turunnya harga ekspor dari kopi itu sendiri, dimana semakin tinggi harga ekspor kopi maka volume ekspor kopi pun akan menjadi semakin tinggi dan semakin rendah harga ekspor kopi akan menyebabkan volume ekspor kopi pun akan menjadi semakin rendah. Harga ekspor kopi Provinsi Bali periode 1990-2006 mengalami fluktuasi, dengan rata-rata perkembangan adalah sebesar 41,34 persen. Perkembangan harga ekspor kopi yang tertinggi terjadi pada tahun 2002, sebesar 360,84 persen sedangkan terendah pada tahun 1997 yaitu sebesar minus 59,55 persen. Hal ini disebabkan karena adanya kenaikan maupun penurunan terhadap biaya produksi dari kopi, yang berimbas pada kenaikan dan penurunan harga ekspor kopi.
Ekspor kopi Bali yang memberikan sumbangan besar terhadap penerimaan devisa Provinsi Bali, tidak bisa terlepas dari penggunaan alat tukar (valuta asing) yang bertujuan mempermudah terjadinya transaksi antar Negara (internasional). Kurs valuta asing dalam hal ini adalah dollar Amerika Serikat sangat berpengaruh terhadap perkembangan perdagangan. Perkembangan nilai kurs dollar Amerika Serikat terhadap rupiah dari tahun 1990 – 2006 mengalami fluktuasi dengan rata-rata perkembangan adalah sebesar 13,17 persen. Perkembangan nilai kurs dollar Amerika Serikat yang terbesar terjadi pada tahun 1997 sebesar 95,13 persen dengan nilai kurs mencapai Rp 4.650,- / US $ dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2.383,- / US $. Namun terjadi penurunan terbesar nilai kurs dollar Amerika Serikat pada tahun 2002 dengan nilai Rp 8.940,- / US $ dari tahun sebelumnya sebesar Rp 10.400,- / US $ atau penurunannya sebesar 14,04 persen. Penurunan nilai kurs dollar Amerika Serikat terhadap rupiah ini lebih disebabkan karena kondisi perekonomian Indonesia yang sudah semakin membaik pasca krisis ekonomi yang melanda Indonesia di tahun 1997.
Pengaturan terhadap ekspor kopi sendiri secara spesifik tertuang dalam International Coffee Agreement (ICA) tahun 1994. Dengan kebijakan ini, maka tidak lagi ditemukan adanya sistem kuota, price control serta intervensi pasar. Atau dengan kata lain seluruh kegiatan ekspor kopi diserahkan pada suatu mekanisme pasar, sehingga negara-negara pengekspor kopi dapat bersaing baik dalam mutu maupun dalam merebut pangsa pasar internasional.
Setelah pemberlakuan ICA-1994 volume ekspor kopi Provinsi Bali cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Kopi Bali yang memiliki mutu yang lebih rendah, menyebabkan kopi Bali menjadi kalah bersaing dengan negara-negara pengekspor kopi lainnya yang memiliki mutu kopi yang lebih baik. Sehingga hal tersebut menyebabkan volume ekspor kopi Provinsi Bali cenderung mengalami penurunan setelah diberlakukannya kebijakan tersebut pada tahun 1994.
PARADIGMA BARU PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Perkembanganekspordarisuatunegaratidakhanya ditentukan oleh faktor-faktor keunggulan komparatif tetapi juga oleh faktor-faktor keunggulan kompetitif. Inti daripada paradigma keunggulan kompetitif adalah keunggulan suatu negara di dalam persaingan global selain ditentukan oleh keunggulan komparatif (teori-teori klasik dan H-O) yang dimilikinya dan juga karena adanya proteksi atau bantuan fasilitas dari pemerintah, juga sangat ditentukan oleh keunggulan kompetitifnya. Keunggulan kompetitif tidak hanya dimiliki oleh suatu negara, tetapi juga dimiliki oleh perusahaan-perusahaan di negara tersebut secara individu atau kelompok. Perbedaan lainnya dengan keunggulan komparatif adalah bahwa keunggulan kompetitif sifatnya lebih dinamis dengan perubahan-perubahan, misalnya teknologi dan sumber daya manusia (Tambunan, 2001 : 130).
HUBUNGAN HARGA DENGAN EKSPOR
Dalam hukum penawaran dijelaskan sifat hubungan antara penawaran suatu barang dengan tingkat harganya. Hukum penawaran pada hakekatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan: makin rendah harga suatu barang maka makin sedikit penawaran terhadap barang tersebut. Sebaliknya makin tinggi harga suatu barang maka makin tinggt penawaran akan barang tersebut dengan asumsi ceteris paribus (Sukirno, 2002 : 87). Oleh karena itu, penawaran akan barang-barang ekspor juga ditentukan oleh besarnya harga dari barang ekspor tersebut. Dimana, semakin tinggi harga dari barang-barang ekspor maka penawaran akan barang-barang ekspor tersebut akan bertambah. Sebaliknya, semakin rendah harga barang impor maka makin rendah penawaran akan barang ekspor tersebut dengan asumsi ceteris paribus (faktor lain dianggap tetap atau tidak mengalami perubahan). Jadi, antara harga ekspor suatu barang mempunyai hubungan yang positif dengan volume ekspor barang tersebut.
HUBUNGAN KURS DOLLAR DENGAN EKSPOR
Dalam sistem kurs mengambang, depresiasi atau apresiasi nilai mata uang akan mengakibatkan perubahan ke atas baik ekspor maupun impor. Jika kurs dollar Amerika serikat mengalami depresiasi, nilai mata uang dalam negeri melemah dan berarti nilai mata uang asing menguat kursnya (harganya) akan menyebabkan ekspor meningkat dan impor cenderung menurun. Jadi kurs valuta asing mempunyai hubungan yang searah dengan volume ekspor. Apabila nilai kurs dollar Amerika Serikat meningkat, maka volume ekspor juga akan meningkat (Sukirno, 2000: 319).
HUBUNGAN KEBIJAKAN EKSPOR DENGAN VOLUME EKSPOR
Kebijakan perdagangan luar negeri, dalam hal ini kebijakan ekspor pada dasarnya ditujukan pada untuk mendukung upaya mewujudkan iklim usaha yang kondusif serta persaingan sehat baik atas dasar kepentingan nasional maupun kewajiban dari adanya perjanjian dan pengaturan perdagangan internasional yang pada gilirannya dapat meningkatkan daya saing produk. Dengan adanya kebijakan ekspor yang ditujukan untuk meningkatkan daya saing produk diharapkan setelah dikeluarkannya kebijakan tersebut akan dapat mendorong suatu peningkatan ekspor (Ditjen Perdagangan Luar Negeri, 2006: 1).
TEKNIK ANALISIS DATA
Objek penelitian yang dilakukan di Provinsi Bali ini adalah pengaruh harga rata-rata ekspor kopi, kurs dollar Amerika Serikat dan kebijakan ekspor kopi terhadap volume ekspor kopi Bali periode 1990-2006. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier berganda yang didalamnya termasuk uji F, uji t dan standardized coefficients beta, dimana sebelumnya data time series di uji dengan metode uji stationer, agar data yang di regresi bersifat stationer yakni memiliki mean, variance dan kovarian yang tidak
dipengaruhi oleh waktu sehingga data yang diperoleh menjadi valid. Uji stationer yang umumnya digunakan adalah unit root test. Persamaan dari unit root (stochastic) process diawali dengan persamaan sebagai berikut.
Yt =
Yt-1 + ut
-1 <1 data-blogger-escaped-p="">
Keterangan:
ut = white noise error term
Jika ρ = 1, merupakan kasus unit root, maka persamaan (1.1) menjadi random walk (acak) atau dikenal dengan non stationary stochastic process. Oleh sebab itu, maka Yt dengan lagged satu Yt (Yt-1) dan mengestimasi ρ secara statistik sama dengan 1 (satu). Jika hasilnya ya, maka Yt tidak stationer
Data time series volume ekspor, harga rata-rata ekspor kopi dan kurs dollar Amerika Serikat stationer pada second difference.
Second Difference Terhadap Data Time Series
Nonstationer
Variabel
Nilai Hitung Mutlak
Nilai Kritis Mutlak/
D (Y,2)
3,828550
3,1222
D (X1,2)
3,795788
3,1222
D (X2,2)
4,845139
3,1222
Keterangan:
D(Y,2) = Second Difference volume ekspor kopi Provinsi Bali Periode 1990-2006
D(X1,2) = Second Difference Harga rata-rata ekspor kopi Provinsi Bali Periode 1990-2006

Digg it StumbleUpon del.icio.us

0 Komentar:

Posting Komentar