Belajar Nge Blog Biar Gag Goblog
JURNAL PERDAGANGAN INTERNASIONAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 1970-2002


Yermia lentolangi

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi



PENDAHULUAN

Dalam liberalisasi sistem keuangan, perbankan bebas dalam menentukan suku bunga simpanan maupun pinjaman sesuai dengan mekanisme pasar. Dengan libera-lisasi keuangan tersebut diharapkan dana masyarakat mampu diserap oleh lembaga keuangan guna membiayai investasi yang produktif sehingga dapat mendorong per-tumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan kata lain, liberalisasi keuangan diharapkan mampu menjamin fungsi intermediasi lem-baga keuangan berjalan dengan baik. Na-mun, jika liberalisasi keuangan tersebut ti-dak mampu menjamin lembaga keuangan menjalankan fungsi intermediasinya maka hal itu hanya akan menaikkan tingkat tabu-ngan masyarakat yang berarti menurunkan tingkat konsumsi masyarakat dan selanjut-nya akan menurunkan tingkat pendapatan nasional.
Dalam perekonomian dunia yang se-makin terintegrasi terlihat bahwa negara yang berhasil dalam perekonomiannya adalah negara yang berhasil mendorong dan mempertahankan eksistensi perdagangannya dengan cepat. Dengan selesainya Putaran Uruguay tahun 1986 serta percepatan AFTA dari tahun 2008 ke 2003, maka Indonesia sangat berkepentingan untuk memperbaiki diri agar dapat menghadapi tekanan ekster-nal yang sangat kuat. Sejak tahun 1983, Indonesia telah membuka perekonomian me-lalui serangkaian kebijakan deregulasi untuk meliberalisasi perdagangan internasional yang secara drastis mempermudah dan menu-runkan tingkat bea masuk bagi kebanyakan komoditas, rasionalisasi struktur tarif, dan mengurangi secara mendasar jumlah komo-ditas yang dilindungi melalui hambatan non-tarif (Goeltom, 1996:8-9). Namun demikian, liberalisasi perdagangan internasional dapat menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi jika yang terjadi adalah semakin besarnya impor yang tidak dibarengi dengan kenaikan ekspor dengan tingkat pertumbuhan yang seimbang. Pendapatan nasional yang berkurang akibat kenaikan impor yang lebih besar dari kenaikan pendapatan nasional akibat kenaikan ekspor akan menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penelitian ini akan mengkaji secara empiris pengaruh liberalisasi keuangan dan perdagangan internasional terhadap pertum-buhan ekonomi di Indonesia periode tahun 1970-2002. Model pertumbuhan ekonomi dianalisis dengan pendekatan model per-tumbuhan ekonomi endogen yang mema-sukkan variabel investasi fisik dan sumber-daya manusia. Apakah liberalisasi keuangan dan perdagangan internasional mampu men-dorong pertumbuhan ekonomi ataukah justru menghambat pertumbuhan ekonomi Indone-sia?

METODE PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam peneli-tian ini adalah data runtun waktu (time se-ries) tahunan. Periode yang digunakan adalah dari tahun 1970 sampai dengan tahun 2002. Periode analisis dimulai tahun 1970 yaitu pada awal periode Pemerintahan Orde Baru dan diakhiri tahun 2002 karena keter-batasan data.
Data diperoleh dari publikasi Statistik Indonesia yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik, Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indo-nesia dan International Financial Statistics yang diterbitkan oleh International Monetary Fund.

DEFINISI OPERASINAL VARIABEL
Definisi operasional dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut:
1. Pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari suatu negara untuk menyediakan berba-gai barang ekonomi kepada penduduk-nya. Kenaikan output secara berkesi-nambungan merupakan manifestasi dari pertumbuhan ekonomi. Dalam peneli-tian ini, pertumbuhan ekonomi dihitung dari nilai logaritma Produk Domestik Bruto (PDB) riil dengan tahun dasar 1993. PDB menggambarkan kemam-puan suatu wilayah (negara) untuk menciptakan output (nilai tambah) pada suatu waktu tertentu.
2. Investasi fisik.
Investasi fisik dihitung dari rasio in-vestasi bruto dengan PDB riil. Investasi bruto atau pembentukan modal tetap bruto mencakup pengadaan, pembuatan dan pembelian barang modal.
3. Investasi sumberdaya manusia.
Proksi yang digunakan untuk mewakili investasi sumberdaya manusia adalah jumlah siswa pada Sekolah Menengah Atas. Di Indonesia pemerintah mene-rapkan program wajib belajar 9 tahun yaitu dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Dengan demikian, masyarakat yang memiliki insentif untuk masa datang akan melanjutkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Tidak dipilihnya pen-didikan pada perguruan tinggi karena hanya sebagian kecil masyarakat Indo-nesia yang memiliki akses terhadap jenjang pendidikan tersebut.
4. Liberalisasi keuangan.
Proksi yang digunakan untuk mewakili liberalisasi keuangan adalah kredit per-bankan pada sektor swasta. Kredit ini meliputi kredit yang disalurkan ke sek-tor ekonomi pertanian, pertambangan, perindustrian, perdagangan, jasa-jasa, dan lain-lain.
5. Liberalisasi perdagangan internasional. Liberalisasi perdagangan internasional di sini diartikan sebagai tidak adanya hambatan perdagangan internasional berupa tarif dan kuota, sehingga perda-gangan internasional akan meningkat melalui kenaikan ekspor maupun impor. Data yang digunakan adalah nilai ekspor ditambah dengan nilai impor barang yang meliputi migas maupun non migas.
6. Variabel boneka.
Variabel boneka yang digunakan adalah liberalisasi keuangan dan perdagangan internasional tahun 1983. Periode se-belum ada liberalisasi tahun 1983 diberi notasi nol dan setelah ada liberalisasi diberi notasi satu.

ALAT ANALISIS
Banyak usaha dan pendekatan telah dilakukan untuk membentuk model dinamis, namun sampai saat ini belum ada konsensus yang umum bagaimana membentuk model dinamis yang baku. Hal ini karena deskripsi dari model dinamis dipengaruhi oleh berba-gai faktor, seperti perilaku agen-agen eko-nomi, faktor psikologis, faktor teknis, pera-nan otoritas ekonomi, faktor kelembagaan, dan pandangan pembuat model terhadap fenomena nyata yang dihadapinya. Di sisi lain, teori ekonomi juga tidak terlalu banyak bercerita tentang model dinamis (jangka pendek), tetapi lebih memusatkan pada peri-laku variabel dalam keseimbangan atau dalam jangka panjang (Gujarati, 2003:656-663; Thomas, 1997:313-319). Penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan Error Correction Model (ECM). Pemilihan model dengan pendekatan ECM didasarkan pada alasan bahwa jika nilai koefisien ECT signifikan maka berarti terdapat indikasi bahwa antara variabel pertumbuhan ekonomi, liberalisasi keuangan, liberalisasi perdagangan interna-sional, investasi fisik dan investasi sumber-daya manusia memiliki hubungan kointe-grasi, spesifikasi modelnya benar, teorinya benar, dan terdapat hubungan kausalitas paling tidak hubungan satu arah (Thomas, 1997:383-390).
Pendekatan kointegrasi merupakan salah satu cara yang sering digunakan dalam penelitian-penelitian ekonomi dalam rangka menghindari adanya regresi lancung. Jika menggunakan pendekatan kointegrasi maka syarat utama yang harus dipenuhi adalah variabel-variabel yang diamati mempunyai derajat integrasi yang sama, yang berarti bahwa variabel-variabel tersebut dalam jangka panjang mempunyai hubungan ke-seimbangan seperti yang dikehendaki oleh teori yang terkait dengan variabel-variabel tersebut (Engle and Granger, 1987:252-253). Namun jika variabel-variabel tersebut tidak mempunyai derajat integrasi yang sama maka digunakan pendekatan ECM (Wickens and Breusch, 1988:202-204). Dengan demikian cara lain yang dapat digunakan untuk menghindari regresi lancung adalah dengan memasukkan lebih banyak variabel kelambanan (lag) baik variabel tergantung (dependent variable) maupun variabel bebas (independent variable). Dengan kata lain perlu dibentuk model dinamis, seperti PAM, ECM, I-ECM (Thomas, 1997:377-381, Su-giyanto, 1994:73, Insukindro, 1991:76-77).

SPESIFIKASI MODEL

Model yang akan dianalisis dalam penelitian ini mengacu dan dimodifikasi dari model Siddiki (2002).

LY = 0 + 1 KAP + 2 LSDM + 3 LKS
+ 4 LXM + 5 D1 + 6 u .......... (1)
LY = log(Y)
LSDM = log(SDM)
LKS = log(KS)
LXM = log(XM)

Di mana:
Y : Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia.

KAP : rasio investasi bruto terhadap PDB riil Indonesia.

SDM : jumlah siswa Sekolah Menengah Atas Indonesia.

KS : kredit perbankan pada sektor swasta Indonesia.

XM : nilai ekspor ditambah nilai impor barang Indonesia.

D1 : variabel boneka, liberalisasi keua-ngan dan perdagangan internasional tahun 1983.

u : variabel gangguan.

Dari model dasar persamaan (1) dibentuk Model Koreksi Kesalahan (Error Correction Model, ECM) sebagai berikut:
DLY = 0 + 1 DKAP + 2 DLSDM + 3
DLKS + 4 DLXM + 5 KAP(-1) +
6 LSDM(-1) + 7 LKS(-1) + 8
LXM(-1) + 9 ect(-1) + 10 D1 +
11 u ................................................................. (2)

Di mana:

DLY = LY-LY(-1)
DKAP = KAP-KAP(-1)
DLSDM = LSDM-LSDM(-1)
DLKS = LKS-LKS(-1)
DLXM = LXM-LXM(-1)

ect = KAP + LSDM + LKS+ LXM– LY

Model ECM jangka panjang dapat ditulis sebagai berikut.

LYt = 0/9 + (5+9)/9 KAPt + (6+9)/9 LSDMt + (7+9)/9 LKSt + (8+9)/9LXMt
LYt = 0 + 1 KAPt + 2 LSDMt + 3 LKSit + 4 LXM

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Perilaku Data
Sebaran data yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Se-baran kelima variabel yang digunakan menunjukkan trend yang searah sehingga memungkinkan untuk dianalisis dalam suatu model. Selama periode tahun 1970-2002, hubungan antara pertumbuhan ekonomi (LY) dengan investasi fisik (KAP), investasi sumberdaya manusia (LSDM), liberalisasi keuangan (LKS), dan liberalisasi perda-gangan internasional (LXM) menunjukkan hubungan yang positif. Kenaikan pertum-buhan ekonomi seiring dengan kenaikan in-vestasi fisik, investasi sumberdaya manusia, liberalisasi keuangan, dan liberalisasi perda-gangan internasional.

Pertumbuhan investasi fisik relatif fluktuatif namun menunjukkan trend yang meningkat. Pada tahun 1987, pemerintah memberikan kemudahan dan kelonggaran dalam penanaman modal di mana pena-naman modal asing diperlakukan sama de-ngan penanaman modal dalam negeri dalam hal kepemilikan saham, sehingga setelah tahun 1987 pertumbuhan investasi fisik tersebut meningkat tajam. Pertumbuhan ekonomi setelah tahun 1987 menunjukkan angka rata-rata sebesar 7 persen. Namun adanya krisis moneter tahun 1997 telah menyebabkan investasi fisik ini menurun tajam. Tingginya tingkat bunga yang bertu-juan untuk memperkuat nilai rupiah menye-babkan tingkat pengembalian investasi fisik yang tinggi pula, sehingga menurunkan in-sentif untuk investasi. Pada tahun 1998, ter-jadi penurunan pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka 13 persen. Dengan demikian, fluktuasi investasi fisik ini me-nyebabkan fluktuasi pertumbuhan ekonomi melalui fluktuasi akumulasi kapital.


Gambar 1. Sebaran Data

35

30

25

20


Pertumbuhan investasi sumberdaya manusia terus mengalami kenaikan sepan-jang periode analisis. Peningkatan jumlah sumberdaya manusia terdidik akan menaik-kan tingkat produktivitas yang akan mendo-rong pertumbuhan ekonomi.

Serangkaian kebijakan pemerintah di sektor keuangan sejak tahun 1983 mendo-rong pertumbuhan dana simpanan masyara-kat di perbankan meningkat pesat. Per-bankan sebagai lembaga perantara keuangan akan menyalurkan dana simpanan tersebut dalam bentuk kredit untuk membiayai in-vestasi yang produktif sehingga akan men-dorong pertumbuhan ekonomi. Namun, adanya krisis moneter tahun 1997 telah menyebabkan dana simpanan masyarakat terus meningkat karena suku bunga yang meningkat tajam sebagai dampak dari kebi-jakan uang ketat untuk memperkuat nilai rupiah. Tingginya suku bunga menyebabkan kredit perbankan untuk swasta berkurang, sehingga investasi turun dan pertumbuhan ekonomi juga turun.

Perdagangan internasional yang ter-cermin dari jumlah ekspor dan impor juga menunjukkan pertumbuhan yang terus meningkat. Ini merupakan salah satu dam-pak dari globalisasi di mana hambatan-ham-batan perdagangan internasional dihilang-kan. Kenaikan ekspor dan impor akan men-dorong pertumbuhan ekonomi melalui efisi-ensi produksi dan perluasan pangsa pasar.

Uji Normalitas

Pengujian terhadap normalitas data menunjukkan hasil bahwa semua data berdistribusi normal kecuali variabel LXM karena nilai mean yang mendekati nilai me-diannya, serta nilai probalilitas J-B statistik yang lebih besar dari 0,05 (pada =5%).








Tabel 1. Hasil pengujian normalitas

Variabel Mean Median J-B stat Prob
LY 12.25 12.28 2.31 0.31
KAP 21.80 22.51 0.56 0.76
LSDM 14.04 14.56 4.69 0.10
LKS 10.34 10.25 2.64 0.27
LXM 10.31 10.53 6.98 0.03

Uji Stasioneritas

Data atau variabel yang diamati akan stasioner jika nilai ADF hitung (absolut) lebih besar dari nilai ADF tabel (absolut). Tabel 2 menunjukkan hasil uji stasioneritas dengan =5%. Variabel yang stasioner hanya variabel LXM. Untuk itu perlu dila-kukan uji derajat integrasi untuk mengetahui pada derajat ke berapa variabel-variabel lainnya akan stasioner.

Dari hasil pengujian derajat integrasi satu pada Tabel 3 diketahui bahwa hanya variabel KAP yang stasioner pada =5%. Variabel LY, LSDM, dan LKS baru stasioner pada uji derajat integrasi kedua seperti terlihat pada Tabel 4. Dengan demikian model estimasi ti-dak dapat dalam bentuk level karena hanya ada satu variabel yang stasioner pada I(0). Perbedaan derajat integrasi antar variabel juga menyebabkan tidak dapat dilakukan pendekatan kointegrasi pada model. Untuk itu digunakan Model Koreksi Kesalahan (ECM) yang mampu mengakomodasi varia-bel dalam bentuk first difference tanpa harus kehilangan analisis jangka panjang karena juga mencakup variabel dalam bentuk level.


Model Koreksi Kesalahan (ECM)

Hasil regresi model ECM pada Tabel 5 menunjukkan bahwa koefisien error cor-rection term lag satu atau ect(-1) signifikan dalam model. Dengan signifikannya koe-fisien ect(-1) berarti terdapat indikasi bahwa antara variabel pertumbuhan ekonomi, in-vestasi fisik, investasi sumberdaya manusia, liberalisasi keuangan dan liberalisasi perda-gangan internasional terdapat kointegrasi, spesifikasi modelnya benar, teorinya benar, dan terdapat hubungan kausalitas (paling tidak hubungan satu arah), sehingga tidak ada alasan untuk menolak model ECM tersebut.

Tabel 2. Hasil Pengujian Stasioneritas I(0)
Variabel Nilai ADF hitung Nilai ADF tabel Keterangan
LY 1.97 -1.95 uroot(N,3)
KAP 0.33 -1.95 uroot(N,3)
LSDM 1.22 -1.95 uroot(N,3)
LKS 1.75 -1.95 uroot(N,3)
LXM -3.68 -3.57 uroot(T,3)

Tabel 3. Hasil Pengujian Derajat Integrasi Pertama I(1)

Variabel Nilai ADF hitung Nilai ADF tabel Keterangan
LY -1.19 -1.95 uroot(N,3)
KAP -2.91 -1.95 uroot(N,3)
LSDM -1.15 -1.95 uroot(N,3)
LKS -1.09 -1.95 uroot(N,3)
Tabel 4. Hasil Pengujian Derajat Integrasi Kedua I(2)

Variabel Nilai ADF hitung Nilai ADF tabel Keterangan
LY -3.85 -1.95 uroot(N,3)
SDM -2.28 -1.95 uroot(N,3)
LKS -4.35 -1.95 uroot(N,3)

Tabel 5. Hasil Regresi Model ECM
Variabel Bebas Koefisien Regresi Nilai t- statistik Prob
C 3.1535 2.27 0.03
DKAP 0.0149 4.79 0.00
DLSDM 0.1671 1.79 0.09
DLKS 0.0060 0.14 0.89
DLXM 0.0879 2.83 0.01
KAP(-1) -0.3344 -2.10 0.05
LSDM(-1) -0.3444 -2.21 0.04
LKS(-1) -0.2598 -2.18 0.04
LXM(-1) -0.3066 -2.05 0.05
ECT(-1) 0.3347 2.11 0.04
D1 0.0553 1.66 0.11

Variabel dalam bentuk perbedaan pertama (first difference) yang menunjukkan adanya signifikansi pada =5% adalah vari-abel KAP dan LXM, sedangkan variabel LSDM signifikan pada =10%. Semua vari-abel dalam bentuk level menunjukkan ada-nya signifikansi pada =5%. Variabel dalam bentuk perbedaan pertama (first difference) menunjukkan pengaruh jangka pendek, sedangkan variabel dalam bentuk level menunjukkan pengaruh jangka panjang.

Nilai koefisien determinasi (R2) sebe-sar 0,7617 menunjukkan bahwa variasi dari variabel pertumbuhan ekonomi mampu di-jelaskan oleh variasi variabel investasi fisik, investasi sumberdaya manusia, liberalisasi keuangan dan liberalisasi perdagangan in-ternasional sebesar 76,17 persen, sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model. Pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tak bebas tersebut adalah signifikan dilihat dari nilai proba-bilitas F statistik yang lebih kecil dari 0,05 (pada =5%).

Hasil uji normalitas yang menunjuk-kan nilai probabilitas J-B statistik yang lebih besar dari 0,05 (pada =5%) berarti bahwa residual berdistribusi normal. Hasil uji ARCH menunjukkan tidak adanya hetero-skedastisitas dan autokorelasi di dalam model, karena nilai probabilitas baik F-sta-tistik maupun nR2 yang lebih besar dari 0,05 (pada =5%). Hasil uji LM juga menunjuk-kan tidak adanya autokorelasi di dalam model, karena nilai probabilitas baik F-sta-tistik maupun nR2 yang lebih besar dari 0,05 (pada =5%). Pengujian terhadap stabilitas model dengan menggunakan uji Chow menunjukkan bahwa nilai probabilitas F-statistik (Chow statistik) lebih besar dari 0,05 (pada =5%). Hal ini berarti bahwa kedua regresi sebelum dan sesudah penggal liberalisasi tahun 1983 adalah sama.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari semua uji asumsi klasik normalitas, non-autokorelasi dan homoskedastis menunjuk-kan bahwa di dalam model yang diestimasi tidak terdapat penyimpangan terhadap asumsi-asumsi klasik tersebut. Model juga stabil untuk periode sebelum dan sesudah liberalisasi keuangan dan perdagangan in-ternasional tahun 1983. Dengan demikian, validitas model tersebut dapat dipertang-gungjawabkan.

Tabel 6. Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang Variabel Bebas Terhadap Variabel Tak Bebas

Variabel Bebas Jangka Pendek Jangka Panjang
KAP 0.0149* 0.0009
LSDM 0.1671** -0.0290
LKS 0.0060 0.2238
LXM 0.0879* 0.0840

Jangka pendek: efek seketika tanpa selang waktu dalam periode pengamatan

Jangka panjang: efek dari keseimbangan lama ke keseimbangan baru setelah ada shock

Pada Tabel 6 dapat dilihat pengaruh jangka pendek dan jangka panjang variabel investasi fisik, investasi sumberdaya manu-sia, liberalisasi keuangan dan liberalisasi perdagangan internasional terhadap pertum-buhan ekonomi.

Variabel investasi fisik dan investasi sumberdaya manusia berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Ini berarti memperkuat model pertumbuhan ekonomi endogen di mana akumulasi kapital dan peningkatan produktivitas sumberdaya manusia akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Temuan ini sama dengan hasil studi Siddiki (2002) dan Mankiw et.al (1990). Namun tingkat signifikansi variabel sumberdaya manusia hanya sebesar 10 persen. Ini dapat terjadi karena pemilihan proksi sumberdaya manu-sia hanya menunjukkan kuantitas dan bukan kualitas sumberdaya manusia. Jumlah tenaga kerja terdidik yang semakin besar belum tentu menyebabkan peningkatan pro-duktivitas yang semakin besar. Pengaruh investasi fisik terhadap pertumbuhan eko-nomi adalah sebesar 0,0149. Ini berarti bahwa kenaikan investasi fisik sebesar 1 persen akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi naik sebesar 0,0149 persen.
Dalam jangka panjang, variabel in-vestasi fisik bertanda positif sehingga kon-sisten dengan model pertumbuhan ekonomi endogen, sedangkan untuk variabel investasi sumberdaya manusia tidak terjadi konsis-tensi tanda dengan model pertumbuhan eko-nomi endogen. Investasi sumberdaya manu-sia di Indonesia belum mampu untuk men-dorong pertumbuhan ekonomi karena penawaran tenaga kerja terdidik yang relatif besar belum mampu terserap oleh lapangan kerja. Tenaga ahli yang terampil tanpa adanya teknologi yang akan mengguna-kannya tidak akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Hasil ini sama dengan studi Pritchett tahun 1999 di mana pertumbuhan investasi sumberdaya manusia (pendidikan) di negara-negara sedang berkembang ber-pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan investasi sumber-daya manusia yang meningkat pesat hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Studi Krueger and Lindahl tahun 1999, Klenow and Rodriguez-Clare tahun 1997, dan Barro and Sala-i-Martin tahun 1995 juga mendukung tidak adanya hubu-ngan antara investasi sumberdaya manusia (pendidikan) dengan pertumbuhan ekonomi (Easterly, 2001:73-84). Tidak adanya penga-ruh pendidikan terhadap pertumbuhan eko-nomi ini disebabkan oleh penggunaan proxy investasi sumberdaya manusia yang tidak mencerminkan aspek kualitatif tetapi kuan-titatif seperti lama studi atau jumlah siswa pada pendidikan formal (Easterly, 2001: 84). Dengan demikian, kelemahan dari peng-gunaan jumlah siswa sebagai proksi investasi sumberdaya manusia semakin dipertegas dalam penelitian ini.
Variabel liberalisasi keuangan yang diwakili oleh variabel kredit perbankan pada sektor swasta tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Namun variabel tersebut memiliki konsistensi tanda baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tanda positif dari variabel kredit perbankan pada sektor swasta menunjukkan bahwa dengan semakin banyaknya kredit yang disalurkan ke swasta akan meningkat-kan investasi. Hubungan positif tersebut ter-jadi karena investasi dilakukan pada sektor-sektor yang produktif sehingga menciptakan efisiensi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Tidak signifikannya variabel ini dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dapat terjadi karena masih adanya moral ha-zard dalam bisnis perbankan. Adanya kredit macet bahkan kredit fiktif tentu saja menye-babkan kucuran kredit perbankan pada sektor swasta belum mampu untuk menggerakan sektor riil, akibatnya pertumbuhan ekonomi tidak beranjak naik. Di Indonesia, hal tersebut ditunjukkan oleh tingginya non-performing loans (NPLs) yang mencapai 54 persen pasca krisis moneter tahun 1997 dan banyaknya kasus pelanggaran Batas Maksimum Pembe-rian Kredit (BMPK) (Bank Indonesia, 2003:23; Warjiyo, dkk, 2003:164).

Dalam Siddiki (2002) juga disebutkan bahwa di Bangladesh alokasi kredit sektor keuangan ke sektor tertentu dan ke peme-rintah untuk membiayai defisit anggaran yang tinggi telah menyebabkan kenaikan rent seeking dan korupsi di kalangan politisi dan birokrat. Alokasi kredit ke swasta hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang mendapat dukungan dari partai politik yang berkuasa, dan hanya digunakan untuk mem-biayai proyek-proyek fiktif. Sehingga alo-kasi kredit ke sektor swasta tidak didasarkan pada pertimbangan ekonomi tetapi berdasar pada pertimbangan politis. Akibatnya per-tumbuhan ekonomi tidak dapat meningkat.
Hasil temuan studi ini tidak sejalan dengan studi-studi yang dilakukan oleh Ghani (1992), de Gregorio (1992), dan King (1993). Studi-studi tersebut menunjukkan adanya pengaruh positif liberalisasi keuangan terhadap per-tumbuhan ekonomi, meskipun studi tersebut menggunakan proksi liberalisasi keuangan yang berbeda dengan penelitian ini.

Variabel perdagangan luar negeri ekspor dan impor menunjukkan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi sebe-sar 0,0879 dalam jangka pendek. Ini berarti kenaikan perdagangan luar negeri ekspor dan impor sebesar 1 persen menyebabkan kenai-kan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,0879 persen. Dalam jangka panjang terdapat kon-sistensi hubungan (tanda) antara liberalisasi perdagangan internasional dengan pertum-buhan ekonomi. Pengaruh positif dari libe-ralisasi perdagangan internasional ini sejalan dengan hasil studi empiris Siddiki (2002) dan Lee (1993), meskipun studi tersebut meng-gunakan proksi liberalisasi perdagangan in-ternasional yang berbeda namun membukti-kan bahwa liberalisasi perdagangan interna-sional dapat mendorong pertumbuhan eko-nomi yang lebih tinggi. Adanya liberalisasi perdagangan internasional akan menaikkan perdagangan internasional baik ekspor mau-pun impor. Kenaikan impor dengan harga yang lebih murah karena tidak adanya ham-batan perdagangan akan mendorong produksi dalam negeri untuk meningkatkan efisiensi agar mampu bersaing dengan produk impor. Keberhasilan produksi dalam negeri dalam menaikkan efisiensi akan menaikkan ekspor karena harga produk yang lebih kompetitif. Kenaikan efisiensi inilah yang dapat mendo-rong pertumbuhan ekonomi.







KESIMPULAN

Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya liberalisasi keuangan dan perda-gangan internasional dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Liberalisasi keu-angan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi jika dapat menjamin fungsi interme-diasi perbankan berjalan dengan baik, se-hingga kenaikan dana simpanan masyarakat akan dapat disalurkan ke sektor swasta un-tuk membiayai investasi yang produktif. Liberalisasi perdagangan yang akan me-ningkatkan perdagangan internasional akan mendorong pertumbuhan ekonomi jika pro-duksi dalam negeri mampu meningkatkan efisiensi produksinya sehingga dapat ber-saing dengan komoditi impor di pasar do-mestik dan mampu menghasilkan komoditi unggulan untuk orientasi ekspor. Perlu men-jadi catatan bahwa liberalisasi keuangan dan perdagangan internasional juga mengandung resiko jika perbankan dan sektor riil tidak mampu mengalokasikan dana untuk inves-tasi yang produktif serta membanjirnya ko-moditi impor yang lebih kompetitif yang tidak dibarengi dengan kenaikan ekspor akan dapat mematikan produksi dalam negeri, meningkatkan pengangguran dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Investasi fisik masih merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk itu perlu mendorong aku-mulasi kapital yang tinggi baik dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun luar negeri (PMA) melalui kebi-jakan pemerintah yang mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif seperti ja-minan hukum, birokrasi yang tidak berbelit, dan tidak adanya pungutan liar yang akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

Penggunaan proksi investasi sumber-daya manusia berupa jumlah siswa pada pendidikan formal tidak mampu menjelas-kan pengaruh investasi sumberdaya manusia terhadap pertumbuhan ekonomi di Indone-sia. Untuk itu diperlukan studi mengenai sumberdaya manusia (pendidikan) yang ditekankan pada aspek kualitatifnya seperti kurikulum yang digunakan, proses belajar-mengajar, komitmen guru dan siswa dan kebijakan pemerintah yang kondusif. Selain penggunaan proksi yang tepat dalam mela-kukan studi tentang pendidikan, perlu juga diperhatikan mengenai initial condition (en-dowment factor) sumberdaya manusia yang dimiliki.






















DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia (2003), Financial Stability Review, No.1, Juni, Biro Stabilitas Sistem Keua-ngan, Bank Indonesia.

De Gregorio, Jose and Pablo E. Guidotti (1992), “Financial Development and Economic Growth”, Working Paper, WP/92/101-EA, International Monetary Fund, Washing-ton DC.

Easterly, William (2001), The Elusive Quest for Growth Economists’ Adventures and Misad-ventures in the Tropics, The MIT Press.

Engle, R.F and CWJ Granger (1987), “Co-integration and Error Correction: Representation, Estimation and Testing”, Econometrica, Vol. 55: 251-276.

Fry, Maxwell J. (1995), Money, interest, and Banking in Economic Development, Second Edition, Johns Hopkins.

Ghani, Ejaz (1992), “How Financial Markets Affect Long-Run Growth: A Cross-Country Study”, Working Paper, No. 843, World Bank, Washington DC.
Goeltom, Miranda S. (1996), “Kinerja Perdagangan Internasional Indonesia, 1980-1995”, Kelola, No. 11: 8-29
Gujarati, Damodar N. (2003), Basic Econometric, Fourth Edition, McGRAW-HILL.

Insukindro (1990), “Komponen Koefisien Regresi Jangka Panjang Model Ekonomi: Sebuah Studi Kasus Impor Barang di Indonesia ”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, No.2, Tahun V: 1-12.

Insukindro (1991), “Regresi Linier Lancung dalam Analisis Ekonomi: Suatu Tinjauan dengan Satu Studi Kasus di Indonesia”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, No.1, Tahun VI: 77-87.

Khan, Mohsin S. and Delano Villanueva (1991), “Macroeconomic Policies and Long-Term Growth: A Conceptual and Empirical Review”, Working Paper, No. WP/91/28, International Monetary Fund, Washington DC.

King, Robert G. and Ross Levine (1993), “Finance and Growth: Schumpeter Might Be Right”, Quarterly Journal of Economics, No.108: 717-737.

Lee, Jong-Wha, “International Trade, Distorsions, and Long-Run Economic Growth” IMF Staff Papers, Vol. 42, No. 2: 299-328.

M’rad, Ben (2000), “Financial Development and Economic Growth: Time-Series Evidence from South Mediterranean Countries, Journal of Economic Literature, klasifikasi: O16, G18, G28: 1-11.

Mankiw, N. Gregory, David Romer, and David N. Weil (1990), “A Contribution to the Em-pirics of Economics Growth”, NBER Working Papers Series, No.3541.

Mankiw, N. Gregory (2000), Macroeconomics, fourth edition, Worth Publishers.

Mansoer, Faried Wijaya (1992), Seri Pengantar Ekonomika Ekonomikamakro, Edisi Ketiga, BPFE-UGM, Yogyakarta.

Romer, David (2001), Advanced Macroeconomics, McGraw-Hill International Edition.

Siddiki, Jalal U. (2002), “Trade and Financial Liberalisation and Endogenous Growth in Bangladesh”, International Economic Journal, Vol. 16, No.3: 23-27.

Sugiyanto, Catur (1994), Ekonometrika Terapan, Edisi Pertama, BPFE Yogyakarta.

Thomas, R.L. (1997), Modern Econometric An Introduction, Addison-Wesley.

Warjiyo, Perry, dkk (2003), Bank Indonesia:Bank Sentral Republik Indonesia Tinjauan Kelembagaan, Kebijakan, dan Organisasi, Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksen-tralan, Bank Indonesia.

Wickens, M.R. and T.S Breusch (1988), “Dynamic Spesification, the Long Run and Estima-tion of Transformed Regression Models, Economic Journal
Digg it StumbleUpon del.icio.us

0 Komentar:

Posting Komentar